Angkot Listrik “Angklung” Mulai Uji Coba di Bandung, Hubungkan Kiaracondong hingga Pasar Baru-ABC

 




KOTA BANDUNG — Angkutan kota (angkot) berbasis listrik pertama di Kota Bandung yang dikenal dengan sebutan Angklung mulai menjalani tahap uji coba. Kehadiran angkutan ini menjadi bagian dari upaya transformasi transportasi publik di Kota Bandung menuju sistem mobilitas yang lebih modern, nyaman, dan ramah lingkungan.

Angklung disiapkan sebagai feeder yang menghubungkan kawasan Kiaracondong dengan kawasan Pasar Baru-ABC. Kendaraan tersebut memiliki bentuk menyerupai minibus dengan kapasitas hingga 15 penumpang, termasuk pengemudi.

Berbeda dengan angkot konvensional yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM), Angklung menggunakan tenaga listrik sehingga perjalanan diharapkan lebih senyap sekaligus mengurangi emisi dari sektor transportasi.

Melintasi Sejumlah Kawasan Strategis

Rute yang dilayani Angklung cukup panjang. Perjalanan dimulai dari Kiaracondong, kemudian melintasi sejumlah ruas jalan dan kawasan penting hingga menuju Pasar Baru-ABC.

Adapun rute yang dilalui mencakup:

Kiaracondong – Soekarno-Hatta – Buahbatu – Malabar – Kosambi – Jalan Sunda – Cihapit – Gedung Sate – Trunojoyo – Sultan Agung – Riau – Sumatera – Braga – Suniaraja – Pasar Baru – Pasar Baru-ABC.

Sepanjang perjalanan, Angklung juga melewati berbagai fasilitas pendidikan, pemerintahan, kepolisian, pusat kebudayaan, hingga kawasan wisata dan perdagangan yang menjadi bagian penting dari aktivitas masyarakat Kota Bandung.

Beberapa lokasi yang berada di sepanjang jalur tersebut antara lain SMKN 8 Bandung, ISBI Bandung, Gedung Sate, Museum Pos Indonesia, Polrestabes Bandung, Museum Mandala Wangsit Siliwangi, kawasan Braga, hingga Pasar Baru.

Dengan cakupan rute tersebut, Angklung diharapkan dapat memberikan alternatif mobilitas bagi masyarakat yang melakukan perjalanan untuk bekerja, bersekolah, berbelanja maupun mengakses berbagai fasilitas publik.

Tarif Mulai Rp4.900

Dari sisi tarif, masyarakat umum dikenakan biaya perjalanan sebesar Rp4.900, sedangkan penumpang dari kalangan pelajar dikenakan tarif Rp2.000.

Pembayaran perjalanan dapat dilakukan menggunakan metode non-tunai, di antaranya melalui QRIS dan uang elektronik, sehingga transaksi diharapkan menjadi lebih praktis dan cepat.

Disiapkan 22 Unit

Untuk mendukung operasional, sebanyak 22 unit Angklung disiapkan. Dari jumlah tersebut, 21 unit digunakan untuk operasional, sementara satu unit lainnya disiapkan sebagai kendaraan cadangan.

Angklung ditargetkan melayani masyarakat sejak pagi hingga sore hari. Dalam sekali pengisian daya, kendaraan listrik tersebut diproyeksikan mampu menempuh jarak sekitar 150 kilometer.

Kemampuan jarak tempuh tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam tahap uji coba, terutama untuk memastikan kendaraan dapat memenuhi kebutuhan perjalanan pada rute yang cukup panjang.

Dorong Transportasi Publik Ramah Lingkungan

Pengoperasian Angklung tidak hanya menawarkan moda transportasi baru bagi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari pengembangan transportasi publik yang lebih ramah lingkungan.

Penggunaan kendaraan listrik diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap BBM serta menekan emisi yang dihasilkan kendaraan bermotor, khususnya di kawasan perkotaan dengan tingkat mobilitas tinggi seperti Bandung.

Tahap uji coba juga menjadi momentum untuk melihat kesiapan kendaraan, pola operasional, pelayanan kepada penumpang, hingga efektivitas rute sebelum layanan tersebut diterapkan secara lebih optimal.

Kehadiran Angklung diharapkan menjadi langkah awal dalam menghadirkan transportasi publik Kota Bandung yang semakin modern, terintegrasi, mudah diakses, dan lebih memperhatikan aspek lingkungan.

Dengan menghubungkan kawasan Kiaracondong hingga Pasar Baru-ABC serta melewati berbagai pusat aktivitas masyarakat, angkot listrik tersebut diharapkan mampu menjadi salah satu pilihan transportasi publik bagi warga Bandung sekaligus mendukung perubahan menuju sistem transportasi perkotaan yang lebih berkelanjutan.


(Redaksi Ungkap Persitiwa News)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pimpinan Tertinggi Iran Ali Khamenei Tewas Dalam Serangan Udara di Teheran

Anggota DPR RI Sigit K Yunianto Angkat Bicara Terkait Dugaan Penembakan Terhadap Warga Desa Baronang Saat Aksi Unjuk Rasa.

Iran Balas Serang Israel Dengan Meluncurkan Rudal.